Senin, 21 Maret 2011
MEMBACA TANDA DARI ALLAH SWT
Kejadian-kejadian di bumi adalah ini adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang merupakan ayat-ayat Al Qur’an yang tersirat di alam ini. Banyak orang yang hafal dengan ayat-ayat Al Qur’an yang tersurat, tetapi tidak jarang dari mereka yang ternyata dalam aplikasinya menentang bahkan mendustakan ayat-ayat yang tersirat dalam kehidupan sehari-hari.
Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah,...(Qs. & : 176)
Lewat kejadian-kejadian yang sering kita anggap biasa-biasa saja Allah bisa mengangkat derajat seseorang dan juga lewat kejadian-kejadian itu seseorang juga bisa terhina.
Berkaca dari kejadian Malin Kundang yang membuat marah orang tuanya hingga dia dikutuk menjadi batu, dan sahabat nabi yang susah payah saat menghadapi kematian akibat sakit hati orang tuanya atas perbuatannya. Mungkin saja hal yang membuat kita terpuruk dan tidak mendapatkan jalan-jalan keluar adalah kurang baiknya kita dengan orang tua kita, seperti: banyak membantah, tidak mau tau, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak mereka sukai. Kita tidak mau memperbaiki ucapan perbuatan kita kepada orang tua kita dan kita juga enggan meminta maaf atas kesalahan yang telah kita perbuat.
Pada sisi lain, banyak dari para pendahulu kita yang di angkat derajatnya oleh Allah karena kejadian-kejadian yang dianggap biasa oleh banyak orang. Contohnya Sir Isaac Newton. Bagi banyak orang melihat apel jatuh, itu biasa tapi bagi Sir Isaac Newton ternyata itu berbeda. Dengan melihat apel jatuh, ternyata dia bisa menangkap pesan Allah sehingga lahir lah hukum gravitasi yang sangat bermanfaat hingga sekarang. Dalam Al Qur’an juga mengisahkan, ketika Nabi Yusuf AS digoda oleh Zulaikha (QS. 12: 23 – 24) dia berlindung kepada Allah, kemudian dia melihat ‘tanda’ dari Allah hingga dia terhindar dari godaan tersebut.
Bagaimana dengan kita? Sepertinya terlalu berlebihan apabila kita berfikir untuk menghasilkan kejadian besar seperti mereka yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah kehidupan. Tapi yang terpenting yang perlu kita tanyakan dalam diri kita. Sudahkah bisakah kita menangkap pesan dari Allah lewat kejadian-kejadian di sekitar kita?
Kita sering tidak menyadari dan menyepelekan dengan hal-hal kecil dalam keseharian kita. Contoh ketika kita melihat orang tua kita kerepotan saat membawa barang atau mengerjakan sesuatu, kita cuek saja. Ketika orang memiliki sebuah rencana kita terkadang cuek dan tidak mau membicarakan dengan orang tua kita. Ketika kita memiliki rejeki, kita jarang sekali berpikir untuk membelikan sesuatu yang disukai orang tua kita, padalah sebenarnya itulah jalan-jalan untuk mendapatkan keridhoan Allah.
Contoh lain ketika ada orang yang meminta-minta yang terkadang agak memaksa, kita sering berpikiran jelek, bahkan tak segan untuk membentak. Ketika orang tua kita atau saudara kita membutuhkan bantuan bisa uang atau tenaga, kita merasa berat untuk memberi karena kita juga butuh. Padahal bisa jadi itu adalah jalan Allah agar kita terhindar dari balak dan bencana.
Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. (QS. 10: 67)
Sudah banyak kejadian yang kita lalui baik bersama keluarga kita, teman sekolah kita, teman kerja kita, dan orang-orang di sekitar kita. Tentunya kita berharap bisa berbuat lebih baik dari hari kemarin. Untuk itulah diperlukan sikap legowo untuk mau mendengar ucapan dan keinginan mereka, mau melihat dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka, dan berfikir demi kebaikan bersama di dunia dan akherat tentunya hanya untuk Allah. Dengan begitu kita mengharap semoga Allah menyempurnakan pahala-Nya, menambah karunia-Nya, dan semoga kita semua mendapat ampunan dari Allah SWT.
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anuge rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. 35: 29 – 30)
Senin, 07 Februari 2011
BERKAH
Definisi Berkah adalah an nama’ waz ziyadah yakni tumbuh dan bertambah, ini berarti Berkah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kebaikannya. Karunia yang berkah adalah karunia Tuhan yg mendatangkan kebaikan/kemanfaatab bagi kehidupan kita baik dunia dan akhirat.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda: ‘barangsiapa ridha terhadap pemberian Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberkahinya dan barangsiapa tidak ridha maka Allah tidak akan memberkahinya’. Dari hadits tersebut dapat diketahui bahwa untuk mendapatkan keberkahan kita harus ridha terhadap pemberian Allah. Yang menjadi pertanyaan sekarang sudahkah kita rodha dengan yang Allah berikan pada kita?
Keridha’an itu dapat kita lihat dari sejauh mana kita menikmati peran yang Allah berikan. Baik peran sebagai anak, sebagai karyawan, sebagai teman, dll. Yang pasti kita bisa menikmati setiap keadaan, setiap situasi, setiap kondisi yang kita alami. Tidak akan muncul keluh kesah, tidak akan muncul putus asa dan putus harapan, dan tidak akan ada salah menyalahkan satu sama lain karena kita sudah menikmati peran masing-masing. Di situlah segala permasalahan yang dihadapi bukanlah ujian dan cobaan, tapi itulah peran yang Allah yang harus disyukuri.
Untuk bisa menikmati peran tentunya bermula dari sabar dengan segala permasalahan yang Allah berikan. Orang yang bisa sabar berarti dia sudah mulai berpikir positif kepada Tuhan-Nya. Dia sudah yakin bahwa Allah tidak mungkin menganiaya kita, segala permasalahan adalah pembelajaran yang akan membuat kita cerdas dan lebih dekat pada Tuhan kita. Kesempitan akan membuat kita lebih kreatif dan mau berpikir, penyakit yang dihadapi adalah jalan untuk mendapatkan ampunan Allah.
Dan tentunya untuk bisa seperti itu tentunya harus dibenahi agar imannya benar. Orang yang imannya benar salah satu indikasinya bahwa ia tidak mbingungi dengan berbagai permasalahan yang dihadapi, dia tidak mau lari kesana ke mari agar permasalahannya selesai karena dia yakin bahwa tidak ada yang bisa menyelesaikan kecuali Allah hingga dia hanya menggantungkan segalanya pada AllahSWT.
Dasar:
- Hadits:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ يُونُسَ حَدَّثَنِي أَبُو الْعَلَاءِ بْنُ الشِّخِّيرِ حَدَّثَنِي أَحَدُ بَنِي سُلَيْمٍ وَلَا أَحْسَبُهُ إِلَّا قَدْ
رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَبْتَلِي عَبْدَهُ بِمَا أَعْطَاهُ فَمَنْ رَضِيَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَارَكَ اللَّهُ لَهُ فِيهِ وَوَسَّعَهُ وَمَنْ لَمْ يَرْضَ لَمْ يُبَارِكْ لَهُ
Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] dari [Yunus], telah menceritakan padaku [Abul 'Alaa' bin Syikhir], telah menceritakan kepadaku [seseorang] dari bani Sulaim, dan aku tidak pernah menyangka kecuali telah melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wasallam bahwa Allah Tabaraka Wa Ta'ala akan menguji hamba-Nya dengan pemberian, barangsiapa ridha terhadap pemberian Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberkahinya dan barangsiapa tidak ridha maka Allah tidak akan memberkahinya."
- Qur’an Surat Al Baqarah(2) : 155 – 157
- Qur’an Surat Al Baqarah(2) : 177
Jumat, 07 Januari 2011
PERMASALAHAN ADALAH JALAN MENJADI “CERDAS”
Sabar adalah kata yang mudah diucapkan tapi sebenarnya sangat sulit diucapkan. Kalau ada orang mengatakan “yang sabar ya” tentunya kita mempertanyakan sabar menurut siapa? Tentunya yang kita berharap sabar kita adalah sabar menurut Allah?
Sabar berkaitan erat dengan berbagai permasalahan yang dihadapi yang orang menganggap ujian, cobaan atau azab. Tak jarang dari kita menyamaratakan antara ujian, cobaan, dan azab; sehingga sebenarnya ketika kita menghadapi azab tapi karena diangap ujian sehingga kita lupa kalau kita harus cepat-cepat bertaubat.
Kapan dikatakan ujian?
Jika kita analogikan anak sekolah, maka ujian adalah media untuk mengukur sejauh mana hasil belajar kita. Jika kita lulus dari ujian maka kita akan ditingkatkan derajat kita, dan jika tidak maka kita harus melakukan remidi dengan munculnya permasalahan dengan motif yang sama.
Begitu juga untuk mengetahui apakah permasalahan dihadapan kita itu ujian atau tidak, kita harus memperhatikan perilaku kita: bagaimana dengan sholat, shodaqoh, ucapan, perilaku, dan hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita (orang tua, saudara, teman). Kalau tidak ada penurunan kita bisa PD, “..o ini ujian dari Allah…pasti Allah akan meningkatkan derajatku, Alhamdulillah..”
Kapan dikatakan cobaan?
Cobaan biasanya berkaitan erat dengan ucapan kita sendiri, dengan kata lain sebenarnya Allah ingin mengetaui sejauh mana kesungguhan dari ucapan kita (QS. 29:2-3). Dari situ akan terlihat jati diri kita sebenarnya apakah kita bener-bener orang yang iman atau kita termasuk orang yang munafik karena berbalik ke belakang?
Kapan dikatakan azab?
Azab adalah titik kulminasi dari banyaknya kesalahan yang kita lakukan. Dari situ kita harus banyak berintrospeksi terutama dosa antara lain:
1. Bagaimana dengan sholat kita,
2. Hubungan kita terutama dengan orang tua;
3. Makan harta yang tidak bener (riba, korupsi, dll)
4. Membunuh, zina, merampok, dan dosa besar lain; atau
5. Banyaknya dosa-dosa kecil yang menumpuk (menggunjing yang akhirnya jadi fitnah)
Mengapa Allah memberikan permasalahan?
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. 2: 155) sabar adalah apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (QS. 2: 156), atau dengan kata lain orang yang sabar adalah orang yang meyakini bahwa permasalahan yang dihadapi adalah dari Allah, dia mengembalikannya kepada Allah kemudian ditunggu ketetapan-Nya. Dari sini sebenarnya Allah memproses kita untuk:
1. Memproses keyakinan kita.
- Kita dituntut meyakini bahwa Allah pemilik, penguasa langit dan bumi sehingga dikembalikan segala urusan kepada-Nya.
- Yakin bahwa janji Allah adalah benar.
2. Berfikir dan kerja keras (QS. 5: 35)
- Selalu mencari jalan keluar (senantiasa berfikir) dan
- Jihad (kerja keras) untuk mendapat keberuntungan (solusi)
3. Sabar dan sholat sebagai jalan mendapat pertolongan Allah(QS. 2: 45 – 46)
4. Memperbaiki sifat-sifat (QS. 41: 35)
Kalau kita ingin dirubah Allah tentunya kita juga harus mau merubah diri kita, antara lain:
- Tidak suka marah
- Menambah amal sholeh
- Memperbaiki ucapan, dll
5. Dicerdaskan oleh Allah
Dengan Allah memberikan petunjuk/jalan keluar (QS. 2: 157) maka sebenarnya Allah telah mengajari kita untuk menyelesaikan permasalahan atau dengan kata lain “Allah telah mencerdaskan kita”
6. Ditingkatkan derajat kita (diberi rahmat)
Sabtu, 27 Juni 2009
Membangun Sikap Optimis
Allah lah yang mengadakan awan, yang kemudian dia mengumpulkan awan dan dijadikannya bertindih-tindih. Dijadikannya kilat untuk menimbulkan kekawatiran dan harapan. Hampir-hampir kilauan kilat itu menghilangkan penglihatan mata. Dari situlah akan keluar air hujan dan dengan air hujan itu akan dihidupkannya bumi sesudah matinya. Itulah bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.


Jika diibaratkan awan adalah masalah, maka Allah lah yang mendatangkan masalah dalam kehidupan kita, kemudian karena ketidakfahaman kita hingga masalah itu menimbulkan masalah-masalah baru, dan akhirnya menumpuk dan menumpuk. Disitulah akan muncul benturan-benturan dalam perjalanan kehidupan yang membuat goyangnya keimanan, bahkan hampir-hampir gelap mata karena begitu beratnya permasalahan yang dihadapi. Bagi orang yang ada secercah iman dalam hatinya, maka iman itu akan menuntun dirinya utuk kembali pada Tuhannya, disitulah awal dari kepasrahan dan penyerahan diri pada Tuhannya, hingga dia bisa memurnikan ketaatan karena merasa tidak akan mungkin mendapat jalan keluar tanpa pertolongan-Nya. Dan setelah pertolongan Allah itu datang, di situlah awal peruba
han dalam diri seseorang. Munculah harapan orang tersebut akan menjadi orang yang lebih baik yang akan menghiasi bumi dengan perbuatan-perbuatan baik.Dan bagi orang yang tidak mau kembali pada Tuhannya, maka dia akan selalu berpaling dan berpaling, hingga dia tersesat sejauh-jauhnya dan tidak akan mungkin bisa kembali tanpa pertolongan Tuhannya.
Dari situ, perlu adanya sikap optimis dalam diri kita, bahwa setiap permasalah yang kita hadapi jika kita kembalikan pada Tuhan kita, disitulah jalan kita untuk berubah menjadi lebih baik lebih baik. Perlu adanya sikap optimis; bahwa
- Setiap penyakit yang kita derita itulah jalan untuk mendapatkan ampunan Allah
- Setiap ejekan, sikap tidak simpatik, dan kedholiman yang ditujukan pada kita, itulah jalan akan dikabulkannya do'a-do'a kita.
- Dan setiap kegagalan yang kita alami, itulah jalan untuk mendapatkan ilmu yang menghantar kita menuju keberhasilan.