Sabar adalah kata yang mudah diucapkan tapi sebenarnya sangat sulit diucapkan. Kalau ada orang mengatakan “yang sabar ya” tentunya kita mempertanyakan sabar menurut siapa? Tentunya yang kita berharap sabar kita adalah sabar menurut Allah?
Sabar berkaitan erat dengan berbagai permasalahan yang dihadapi yang orang menganggap ujian, cobaan atau azab. Tak jarang dari kita menyamaratakan antara ujian, cobaan, dan azab; sehingga sebenarnya ketika kita menghadapi azab tapi karena diangap ujian sehingga kita lupa kalau kita harus cepat-cepat bertaubat.
Kapan dikatakan ujian?
Jika kita analogikan anak sekolah, maka ujian adalah media untuk mengukur sejauh mana hasil belajar kita. Jika kita lulus dari ujian maka kita akan ditingkatkan derajat kita, dan jika tidak maka kita harus melakukan remidi dengan munculnya permasalahan dengan motif yang sama.
Begitu juga untuk mengetahui apakah permasalahan dihadapan kita itu ujian atau tidak, kita harus memperhatikan perilaku kita: bagaimana dengan sholat, shodaqoh, ucapan, perilaku, dan hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita (orang tua, saudara, teman). Kalau tidak ada penurunan kita bisa PD, “..o ini ujian dari Allah…pasti Allah akan meningkatkan derajatku, Alhamdulillah..”
Kapan dikatakan cobaan?
Cobaan biasanya berkaitan erat dengan ucapan kita sendiri, dengan kata lain sebenarnya Allah ingin mengetaui sejauh mana kesungguhan dari ucapan kita (QS. 29:2-3). Dari situ akan terlihat jati diri kita sebenarnya apakah kita bener-bener orang yang iman atau kita termasuk orang yang munafik karena berbalik ke belakang?
Kapan dikatakan azab?
Azab adalah titik kulminasi dari banyaknya kesalahan yang kita lakukan. Dari situ kita harus banyak berintrospeksi terutama dosa antara lain:
1. Bagaimana dengan sholat kita,
2. Hubungan kita terutama dengan orang tua;
3. Makan harta yang tidak bener (riba, korupsi, dll)
4. Membunuh, zina, merampok, dan dosa besar lain; atau
5. Banyaknya dosa-dosa kecil yang menumpuk (menggunjing yang akhirnya jadi fitnah)
Mengapa Allah memberikan permasalahan?
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. 2: 155) sabar adalah apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (QS. 2: 156), atau dengan kata lain orang yang sabar adalah orang yang meyakini bahwa permasalahan yang dihadapi adalah dari Allah, dia mengembalikannya kepada Allah kemudian ditunggu ketetapan-Nya. Dari sini sebenarnya Allah memproses kita untuk:
1. Memproses keyakinan kita.
- Kita dituntut meyakini bahwa Allah pemilik, penguasa langit dan bumi sehingga dikembalikan segala urusan kepada-Nya.
- Yakin bahwa janji Allah adalah benar.
2. Berfikir dan kerja keras (QS. 5: 35)
- Selalu mencari jalan keluar (senantiasa berfikir) dan
- Jihad (kerja keras) untuk mendapat keberuntungan (solusi)
3. Sabar dan sholat sebagai jalan mendapat pertolongan Allah(QS. 2: 45 – 46)
4. Memperbaiki sifat-sifat (QS. 41: 35)
Kalau kita ingin dirubah Allah tentunya kita juga harus mau merubah diri kita, antara lain:
- Tidak suka marah
- Menambah amal sholeh
- Memperbaiki ucapan, dll
5. Dicerdaskan oleh Allah
Dengan Allah memberikan petunjuk/jalan keluar (QS. 2: 157) maka sebenarnya Allah telah mengajari kita untuk menyelesaikan permasalahan atau dengan kata lain “Allah telah mencerdaskan kita”
6. Ditingkatkan derajat kita (diberi rahmat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar